Di tengah ritme kehidupan kampus yang sarat dengan jadwal perkuliahan, kegiatan organisasi, dan tuntutan tugas akademik, terdapat sebuah kebiasaan sederhana namun sarat nilai, yakni mengulang hafalan Al-Qur’an (muroja’ah) di sela-sela waktu luang. Praktik ini kerap dijumpai di lingkungan Universitas Al-Qolam, khususnya di kalangan mahasiswa yang berasal dari latar belakang pesantren maupun mereka yang memiliki komitmen kuat dalam menjaga hafalan. Dari sudut pandang akademik dan spiritual, kebiasaan tersebut dinilai berpotensi besar dalam membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual.
Dalam kajian pendidikan Islam, Al-Qur’an diposisikan sebagai landasan pembinaan karakter (ta’dib) yang mencakup pengaturan ibadah sekaligus penanaman kesadaran diri, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab. Muroja’ah, yakni pengulangan hafalan, tidak sekadar menjadi rutinitas mekanis, melainkan merupakan latihan reflektif yang memadukan aspek kognitif dan afektif. Mahasiswa yang konsisten melakukannya tengah menempa kepribadian yang tangguh, mampu mengatur waktu secara bijaksana, memegang komitmen jangka panjang, serta menjaga kedekatan batin dengan Kalamullah di tengah arus budaya digital dan kesibukan kampus.
Dari aspek psikologis, muroja’ah turut menghadirkan ketenangan. Sebagaimana dikemukakan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, membaca dan mengingat Al-Qur’an secara berulang dapat menumbuhkan ketenteraman jiwa serta menjaga kestabilan emosi. Pandangan ini sejalan dengan pengamatan di lingkungan Universitas Al-Qolam, di mana sejumlah mahasiswa memanfaatkan waktu-waktu jeda, seperti menjelang perkuliahan, usai salat, ataupun ketika menunggu dosen, untuk melafalkan kembali ayat-ayat yang telah dihafal, baik secara lisan maupun dalam hati. Fenomena ini menunjukkan bahwa semangat Al-Qur’an tetap hidup di lingkungan kampus yang berlandaskan prinsip-prinsip akademik.
Dari sisi sosiologis, tradisi ini membentuk suasana yang sarat kesadaran dan mampu membangkitkan semangat kolektif. Ketika seorang mahasiswa tekun bermuroja’ah, rekan-rekannya cenderung terdorong untuk mengikuti. Aktivitas individual tersebut pada akhirnya menciptakan atmosfer Qur’ani, memperkuat identitas komunitas, dan berfungsi sebagai kompas moral bagi perilaku mahasiswa. Mahasiswa yang istiqamah dalam muroja’ah layak mendapat apresiasi serta didorong untuk menjadi ciri khas budaya kampus, terlebih di tengah maraknya penyebaran informasi digital dan menurunnya minat baca terhadap teks-teks suci.
Sebagai lembaga pendidikan Islam, Universitas Al-Qolam menjunjung tinggi tradisi ini dengan memberikan pembinaan yang terarah kepada para penghafal Al-Qur’an. Sejumlah fasilitas, seperti program intensif dan komunitas tahfiz, diharapkan dapat memperkuat dimensi spiritual mahasiswa sekaligus selaras dengan visi perguruan tinggi dalam melahirkan lulusan yang unggul secara akademik dan berjiwa Qur’ani.
Pada akhirnya, pencapaian seorang
