Terjebak Pikiran Berlebih: Dilema Mahasiswa Al-Qolam di Tengah Derasnya Media Sosial

Perkembangan teknologi digital telah menjadikan media sosial sebagai rutinitas harian mahasiswa, tak terkecuali di lingkungan Kampus Al-Qolam. Sejak pagi hingga larut malam, pemberitahuan dari WhatsApp, Instagram, dan TikTok nyaris tidak pernah berhenti masuk ke layar ponsel. Meski memberikan banyak manfaat sebagai wadah komunikasi, pembelajaran, dan pencarian informasi, platform tersebut juga memunculkan persoalan yang kerap dialami mahasiswa, yakni overthinking. Kondisi ketika pikiran dipenuhi persoalan sepele maupun perbandingan diri dengan orang lain ini pada akhirnya dapat mengganggu konsentrasi belajar serta produktivitas.

Jika diumpamakan, media sosial laksana pasar yang beroperasi tanpa henti. Berita, capaian rekan sebaya, dan konten jenaka yang sedang viral datang silih berganti. Salah satu faktor pendorong fenomena ini adalah Fear of Missing Out (FOMO), yakni perasaan khawatir tertinggal informasi terkini. Akibatnya, mahasiswa terdorong untuk terus memantau setiap perkembangan di dunia maya, sementara energi mental mereka perlahan terkuras.

Sebagai contoh, sejumlah mahasiswa Al-Qolam kerap tergoda membuka media sosial saat sedang mengerjakan tugas. Semula mereka hanya ingin mencari referensi, namun tanpa disadari justru larut dalam kolom komentar yang tidak berkaitan dengan tugas. Waktu belajar pun tersita, dan pikiran menjadi semakin sesak.

Overthinking yang dipicu media sosial membawa sejumlah dampak serius. Pertama, menurunnya daya konsentrasi, sebab energi tersedot untuk memikirkan hal-hal kecil sehingga sulit berfokus ketika mengikuti perkuliahan atau menyelesaikan tugas. Kedua, munculnya kebiasaan menunda pekerjaan atau prokrastinasi, di mana mahasiswa cenderung menunda tugas karena merasa hasilnya tidak akan memuaskan.

Lebih jauh, overthinking juga dapat menggerus rasa percaya diri. Melihat teman-teman membagikan pencapaiannya di media sosial dapat membuat sebagian mahasiswa merasa rendah diri. Apabila kondisi ini dibiarkan berlarut, dampaknya dapat meluas ke kesehatan mental, mulai dari stres, kecemasan, hingga gangguan tidur. Situasi tersebut tentu berpengaruh pada kualitas perkuliahan di Al-Qolam, yang idealnya ditopang oleh mahasiswa dengan pikiran jernih dan fokus belajar yang baik.

Namun demikian, media sosial tidak sepenuhnya berdampak negatif. Bila dimanfaatkan secara bijak, platform ini justru dapat menunjang perkembangan mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa Al-Qolam yang memanfaatkannya untuk mencari informasi beasiswa, mengikuti perlombaan, atau mempelajari keterampilan baru. Penulis sendiri pernah menemukan peluang lomba menulis melalui Instagram, yang kemudian memperkaya portofolio.

Kunci utamanya terletak pada kemampuan mahasiswa dalam menyaring informasi. Dengan mengikuti akun-akun yang inspiratif, edukatif, dan bermanfaat, risiko overthinking dapat diminimalkan sekaligus membuka peluang baru. Sebagai pengguna aktif, mahasiswa Al-Qolam sesungguhnya memegang kendali penuh atas kebiasaan bermedia sosialnya. Sejumlah langkah yang dapat ditempuh antara lain:

  1. Membatasi waktu penggunaan. Manfaatkan fitur screen time untuk mengatur durasi harian, misalnya maksimal satu jam di luar keperluan akademik.
  2. Memusatkan perhatian pada aktivitas. Saat belajar, jauhkan ponsel agar tidak mudah teralihkan. Biasakan menuntaskan satu tugas sebelum beralih ke tugas berikutnya.
Diposkan di Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *