Al-Qolam Gondanglegi Bersiap Menjadi Model Perguruan Tinggi Riset Berbasis Pesantren

Setelah melewati serangkaian proses komunikasi dengan sejumlah pihak, Yayasan Al-Qolam Gondanglegi akhirnya melantik jajaran rektorat IAI Al-Qolam pada 2 Pebruari 2015 di Rumah Makan Zamzam, Putat Lor, Gondanglegi, Malang. Acara pelantikan tersebut dihadiri Ketua Pembina Yayasan, Prof. Dr. Imam Suprayogo; Ketua Yayasan, KH Fahrur Rozi Burhanuddin; sejumlah anggota yayasan; jajaran pimpinan STAI Al-Qolam yang masih menjabat pada periode sebelumnya; para staf; serta beberapa dosen.

Dalam sambutannya, Kiai Fahrur Rozi menilai pergantian kepemimpinan merupakan hal yang lumrah dalam setiap organisasi maupun kelompok. Menurutnya, regenerasi menjadi tujuan utama yang hendak dicapai yayasan melalui pergantian ini, agar perjalanan perguruan tinggi yang dicintai bersama tetap bergerak secara dinamis dan berkesinambungan, tanpa terjebak dalam stagnasi. Tokoh yang akrab disapa Gus Fahrur tersebut merupakan salah satu pengasuh Pesantren Annur I Bululawang, Malang.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap keputusan terkait personalia rektorat lahir dari tiga unsur utama, yakni arahan Pembina Yayasan, musyawarah dzuriyah para pendiri Al-Qolam, serta kesepakatan anggota yayasan dalam rapat resmi. Ia menegaskan bahwa keputusan yang diambil di lingkungan yayasan telah mempertimbangkan berbagai aspek dan kepentingan. Oleh sebab itu, ia menilai isu-isu liar di luar lingkungan yayasan yang menyebut keterlambatan penyusunan rektorat sebagai akibat benturan kepentingan tidak berdasar. Ia pun mengajak seluruh elemen yayasan dan lembaga untuk bersatu langkah serta menyamakan visi demi melanjutkan dan memajukan perguruan tinggi yang telah diperjuangkan para pendiri. Menurutnya, Al-Qolam didirikan oleh para kiai dan tokoh sepuh Gondanglegi yang keikhlasannya diyakini bersama, sehingga siapa pun yang berjuang untuk lembaga ini diyakini akan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.

Di akhir sambutannya, Gus Fahrur menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada para pimpinan terdahulu yang telah berjuang mengembangkan kampus ini hingga akhirnya berhasil beralih status dari STAI menjadi IAI.

Sementara itu, dalam pengarahannya, Prof. Dr. Imam Suprayogo menyebut bahwa Al-Qolam sejatinya merupakan perguruan tinggi berskala kecil. Ia mengaku telah terbiasa terlibat dalam pengembangan lembaga serupa di berbagai tempat, bahkan pernah berkunjung ke sejumlah perguruan tinggi di luar negeri, mulai dari Amerika, Eropa, hingga Timur Tengah. Baginya, Al-Qolam hanyalah salah satu dari sekian banyak perguruan tinggi. Namun justru dari kampus kecil di daerah Gondanglegi ini, ia berharap lahir sebuah gagasan besar. Ia menegaskan tidak akan membahas sosok Kiai Yahya Syabrawi, melainkan Kiai Qosim Bukhori, yang dikaitkan dengan topik gagasan yang hendak ia sampaikan.

Diposkan di Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *