Ungkapan K.H. Abdul Karim dari Lirboyo, “Ora usah tirakat, sing penting mempeng!”, menjadi titik tolak tulisan ini yang membahas sikap tekun dan sungguh-sungguh dalam dunia pendidikan. Ujian kenaikan kelas kini tengah berlangsung di berbagai jenjang, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Pada jenjang dasar hingga menengah, kegiatan ini dikenal sebagai Penilaian Akhir Semester (PAS). Menjelang pelaksanaannya, lingkungan sekolah biasanya dihiasi spanduk bertuliskan “Harap Tenang Ada Ujian”, diselenggarakan doa bersama, bahkan dibuka kursus-kursus persiapan ujian.
Siswa, orang tua, dan guru terlibat secara intens dalam proses ini. Setiap pihak menginginkan keberhasilan, yakni kelulusan dengan nilai terbaik, diterima di lembaga pendidikan bergengsi, dan pada akhirnya memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang besar. Menurut penulis, kecemasan terhadap kegagalan ujian sudah tampak berlebihan. Siswa khawatir tidak lulus, orang tua cemas anaknya gagal, guru takut dinilai kurang berhasil karena ada siswa yang tidak lulus, sementara dinas terkait merasa nama daerahnya tercoreng bila nilai siswa berada di bawah standar minimal. Akibatnya, suasana ujian terasa begitu mencekam.
Penulis mencoba menelusuri akar persoalan dari kekhawatiran tersebut. Rantai pemikirannya bermula dari takut tidak lulus, lalu tidak lulus karena gagal menyelesaikan soal, gagal karena tidak memahami jawaban, tidak paham karena tidak belajar, dan tidak belajar karena terlalu sering memanjakan diri dalam kemalasan.
Kata “mempeng” dapat disepadankan dengan istilah tekun, rajin, atau sungguh-sungguh. Menurut penulis, semangat tersebut kini semakin jarang ditemukan dalam praktik pendidikan secara umum, meskipun kesimpulan ini bersifat subjektif dan dipengaruhi keterbatasan pengamatan penulis. Siswa yang kurang bersungguh-sungguh dalam belajar, orang tua yang tidak mendampingi anaknya belajar, dan berbagai fenomena serupa lainnya menjadi gambaran situasi tersebut. Prof. Mudjia Raharjo, mantan Rektor UIN Malang, pernah menyampaikan bahwa salah satu dampak perubahan zaman adalah kecenderungan masyarakat untuk menyukai hal-hal yang serba instan. Dalam konteks pendidikan, hal ini dapat berarti keinginan untuk lulus tanpa harus bersusah payah belajar secara tekun.
Kondisi tersebut pada akhirnya membuat lulusan sekolah ibarat anak ayam yang kehilangan induknya. Mereka kebingungan menentukan langkah setelah lulus, dan hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya kesungguhan dalam belajar. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “sopo tekun, bakal tekan”, yang bermakna siapa yang bersungguh-sungguh, dialah yang akan sampai pada tujuannya.
Penulis juga menghubungkan istilah “mempeng” dengan ilmu bahasa. Menurutnya, semangat tekun tersebut dapat diterapkan dalam empat keterampilan berbahasa, yakni menyimak atau mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada keterampilan menyimak, misalnya, siswa perlu mendengarkan dengan seksama dan tekun agar pemahamannya utuh.
