Perguruan Tinggi Islam Berbasis Pesantren Menyikapi Konsep Kampus Merdeka: Peluang di Tengah Tantangan

Konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digagas Menteri Pendidikan Nadiem Makarim membawa sejumlah perubahan mendasar dalam penyelenggaraan pembelajaran di perguruan tinggi. Semangat kebijakan ini mendorong proses belajar yang lebih terbuka serta selaras dengan dinamika industri dan kemajuan ilmu pengetahuan yang bergerak tanpa batas. Mahasiswa diberi keleluasaan untuk menentukan jalur belajar sesuai kemampuan dan minat masing-masing, termasuk mengikuti beragam kegiatan di dalam maupun di luar kampus, selama kegiatan tersebut positif dan berkaitan dengan bidang studi yang ditekuni. Di sisi lain, dosen dituntut memiliki kompetensi serta komitmen untuk terus berkembang, tampil sebagai ilmuwan yang tangguh, profesional, dan inspiratif, serta siap melayani kebutuhan peserta didik. Dengan demikian, perguruan tinggi beserta seluruh sivitas akademikanya dituntut bersikap progresif dan inovatif.

Bagi perguruan tinggi berbasis pesantren, gagasan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan tersendiri. Pesantren memiliki nilai-nilai khas yang menjadi identitas dan tetap dijaga, antara lain pelestarian nilai-nilai tradisi, peran sentral guru atau kiai, serta dimensi spiritualitas dan rujukan keagamaan. Kondisi ini menuntut perguruan tinggi berbasis pesantren untuk tetap teguh menjaga nilai dan karakter pesantren, sekaligus terbuka dan siap melakukan perubahan mendasar sesuai tuntutan zaman.

Webinar yang diselenggarakan pada 29 Agustus 2020 ini diikuti sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam berbasis pesantren di Jawa Timur, dengan IAI Al-Qolam bertindak sebagai tuan rumah. Forum tersebut menegaskan bahwa integrasi dan transformasi merupakan keniscayaan dalam perkembangan sistem pendidikan tinggi, khususnya dalam konteks kampus merdeka. Rektor IAI Al-Qolam, KH. Dr. Muhammad Adib, M.Ag., dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa integrasi keilmuan merupakan prinsip dasar pendidikan yang kemudian perlu diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan. Ia berharap webinar tersebut dapat ditindaklanjuti untuk mengembangkan pendidikan pada masa mendatang.

Menjawab pertanyaan mengenai bagaimana perguruan tinggi menghadapi pola kampus merdeka, Prof. Dr. KH. Agus Zainal Arifin, S.Kom., M.Kom. menilai bahwa sistem kampus merdeka mencerminkan kegelisahan yang dirasakan mahasiswa maupun dosen akibat sistem pendidikan yang selama ini dibatasi oleh berbagai aturan.

Tidak terdapat perbedaan antara kampus besar maupun kecil, maupun antara PTAIN dan PTAIS, sebab…

Diposkan di Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *