Kepala Program Studi Tadris Bahasa Indonesia IAI Al Qolam Malang, Muhammad Masykur Izzy Baiquni, menyoroti rendahnya budaya membaca, berpikir, dan menulis di Indonesia. Dalam tulisannya, ia mengutip ungkapan John F. Kennedy bahwa seseorang yang sehari saja tidak membaca akan kehilangan daya tarik ketika berbicara.
Menurut Izzy, masyarakat pada dasarnya lebih menikmati hiburan ketimbang proses pendidikan. Oleh karena itu, dibutuhkan model pendidikan yang menyenangkan agar dapat berkembang. Ia lalu memaparkan sejumlah persoalan pendidikan yang masih membelenggu, di antaranya: pertama, sumber daya guru, materi, dan siswa yang cenderung terkonsentrasi di sekolah dengan kondisi ekonomi lebih mapan; kedua, ketimpangan pemerataan guru, murid, dan sumber daya; ketiga, tingginya kasus perundungan (bullying); keempat, lemahnya growth mindset siswa, yang tidak yakin mampu melampaui kemampuannya saat ini akibat rendahnya optimisme diri, sementara penilaian hanya bertumpu pada satu angka ujian; kelima, kesenjangan antara sekolah negeri dan swasta, padahal di negara berkembang seperti Brazil, sekolah swasta justru tercatat lebih unggul; keenam, minimnya akses guru terhadap pengenalan literasi; dan ketujuh, rendahnya rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan.
Izzy menilai bangsa ini semestinya prihatin terhadap kondisi budaya membaca, berpikir, dan menulis. Masyarakat dinilai lebih asyik membaca status di media sosial dibandingkan membaca buku. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan We Are Social dan Hootsuite menunjukkan masyarakat Indonesia sangat aktif di media sosial. Pada Januari 2018, dari total penduduk Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, pengguna internet mencapai 132,7 juta orang. Selain itu, data UNESCO tahun 2012 mencatat tingkat keseriusan membaca masyarakat Indonesia hanya 1:1000, yang berarti dari setiap 1.000 orang hanya satu orang yang memiliki minat baca serius. Posisi tersebut masih tertinggal jauh dibandingkan Singapura.
Dalam konteks itu, literasi menjadi isu yang mengkhawatirkan. Mengutip Suwandi (2017), literasi mencakup kegiatan membaca sebagai sarana memahami informasi dan ilmu pengetahuan, berpikir untuk mengembangkan informasi secara lebih eksploratif dan elaboratif, serta berkarya dan bersikap dengan mengaktualisasikan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, literasi dipandang sebagai kemampuan dasar seseorang untuk…
