Penulis Malang Dibekali Strategi Menembus Penerbit Nasional Bersama Editor Gramedia

Workshop Peningkatan Mutu Penulisan dan Penerbitan Karya Tulis Ilmiah digelar pada Rabu, 6 November 2019, pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, di Hotel Pelangi, Jalan Merdeka, Malang. Kegiatan ini merupakan bentuk perhatian Pemerintah Kabupaten Malang terhadap para penulis yang berdomisili di wilayah tersebut.

Sejumlah kepala perpustakaan serta ketua badan dan lembaga penulisan dari seluruh Kabupaten Malang hadir dalam acara ini. IAI Al-Qolam turut mengirimkan perwakilan, yakni Kepala Perpustakaan Farida, SE, dan Sekretaris LP3M Hanif Maulaniam Sholah, M.Pd. Dalam sambutannya, Ir. Tomie Hermawanto, MP, dari Bappeda menegaskan bahwa pembangunan Kota Malang tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur jalan dan drainase. Menurutnya, pembangunan juga harus mampu menumbuhkan literasi, intelektualitas, dan kearifan lokal.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Malang ini dihadiri langsung oleh Retno Kristi, Editor Senior Elex Media Komputindo Gramedia dari Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, ia menawarkan kerja sama penerbitan kepada peserta untuk berbagai jenis naskah, meliputi buku referensi, buku ajar, modul, cerpen, novel, buku cerita rakyat, dan karya lainnya. PT Gramedia, yang dikenal sebagai perusahaan penerbitan nomor satu di Indonesia, membuka peluang bagi penulis Malang untuk menerbitkan karyanya melalui bimbingan langsung dari penulis sekaligus editor senior tersebut.

“Setiap penulis, baik pemula maupun penulis muda, memiliki peluang untuk menerbitkan naskah, asalkan dijalani dengan serius,” ujar narasumber yang dikenal sabar dalam membimbing peserta.

Peserta menyambut antusias arahan, dorongan, dan motivasi yang diberikan. Sejumlah peserta menyatakan optimisme bahwa karya mereka dapat terbit di salah satu penerbit ternama di Indonesia.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan secara rinci tahapan penerbitan buku, mulai dari survei pasar, pengumpulan data, pendekatan kepada penerbit, proses penyuntingan (editing), hingga tahap publikasi.

Retno Kristi, yang akrab disapa Bu Retno, menyambut baik karya-karya yang mengangkat muatan lokal. Namun, ia mengingatkan bahwa penulis juga perlu mempertimbangkan potensi pangsa pasar, karena tidak semua tema lokal memiliki daya tarik yang tinggi. “Saya senang dengan muatan lokal, tetapi lihat juga bagaimana pangsa pasarnya. Kalau anak-anak disuruh memilih antara Sangkuriang atau Doraemon, mereka pasti memilih Doraemon,” tuturnya.

Mengakhiri sesi, Bu Retno menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan awal dari upaya membangun jembatan antara penulis daerah dan dunia penerbitan nasional.

Diposkan di Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *